Latest Post
Tampilkan postingan dengan label wisata Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata Budaya. Tampilkan semua postingan

PUSUK HUTAN MONYET

Written By Unknown on Jumat, 07 Maret 2014 | 14.38



Pusuk (bhs.Sasak) berarti puncak adalah suatu wilayah dataran tinggi yang berada dipunggung bukit kaki Gunung Rinjani dengan panorama yang indah dengan hawa sejuk dalam balutan hutan tropis dengan berbagai vegetasi hujan/pohon khas Lombok. Wisatawan disuguhkan dengan pemandangan yang sangat menakjubkan, karena dari tempat ini kita dapat memandang 3 (tiga) Gili yakni Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno yang diiringi suara kicauan burung  khas Lombok yang merdu.
Pusuk terletak diperbatasan antara Lombok Barat dan Lombok Utara dan menjadi jalur yang digunakan para wisatawan untuk menuju lokasi-lokasi indah di Pulau Lombok bagian utara antara lain 3 (tiga) Gili tersebut diatas, Air Terjun Sendang Gila, Lokasi Lombok Kosaido Golf Course, dan beberapa hotel berbintang serta untuk menuju pintu barat jalur pendakian Gunung Rinjani di Senaru.

Suasana yang sejuk dan asri pusuk dimanfaatkan pula sebagai rest area / tempat persinggahan. Daya tarik utama yang dapat kita saksikan adalah kehidupan komunitas yang lincah dan jenaka spesies yang ada adalah Monyet Hutan Ekor Panjang ( Macaca Fascicularis ) yang berjajar ditepi jalan dengan setia menanti para wisatawan yang melintasi jalur tersebut memberikan umpan ( Kacang, Pisang atau lainnya),seringnya berinteraksi dengan manusia yang lewat nampak sekali monyet-monyet tersebut jinak dan terkadang bisa diberikan umpan dengan mengambil sendiri di tangan kita atau sang monyet duduk dipangkuan para pecinta binatang tersebut.

Gendang Beleq Budaya Sasak

Datusasaklombok-Keindahan Pulau Lombok tidak akan lengkap jika Anda hanya memandang alamnya tanpa melihat keragaman kesenian dan kebudayaan yang ada di dalamnya. 

Salah satu kesenian khas Lombok adalah Gendang Beleq (gendang besar). Kumpulan alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara ditabuh berkelompok.

Disebut Gendang Beleq karena salah satu alat musik yang ditabuh berukuran beleq, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti besar.  Gendang beleq dibuat dari batang pohon besar yang bagian tengahnya dilubangi dan dilapisi dengan kulit kambing, sapi, atau pun kerbau. 

Kelengkapan lain dalam instrumen gendang beleq adalah sejumlah alat musik lain seperti oncer (gong), gong, reong (gong chime) dan petuk, dan sejumlah alat musik idiofonik lain (ceng-ceng, saron, calung, rincik) serta instrumen melodis, suling. Demikian kata Mursip.

Perlengkapan Gendang Beleq umumnya masih disakralkan atau jika di dalam bahasa Sasak masih dianggap maliq. Maliq yaitu tabu untuk dianggap remeh atau direndahkan, jika maliq ini dilanggar akan mendapatkan akibat fatal bagi yang melanggarnya baik berupa magis atau fisik. 

Akibat fatal ini disebut dengan tulah manuh (kena batunya), dan mendapat tulah karena melanggar sesuatu yang dianggap maliq.

Sementara itu, bentuk kesenian tradisional Gendang Beleq yang ditemukan dewasa ini adalah perkembangan bentuk dari pengaruh kesenian Bali yaitu Tawaq-Tawaq. 

Perubahan bentuk kesenian ini pertama kali terjadi sekitar tahun 1800 Masehi, ketika Anak Agung Gede Ngurang Karang Asem memerintah di Gumi Sasak (Pulau Lombok).

Sebelumnya, kesenian Gendang Beleq hanya terdiri atas sebuah Jidur (gendang besar yang berbentuk beduq), sebuah gong dan sebuah suling. 

Demikian besarnya pengaruh kebudayaan Bali pada waktu itu, sehingga peralatan kesenian ini berkembang sesuai dengan alat yang digunakan pada kesenian tawaq-tawaq. 

Tetapi, agar tidak meninggalkan nilai-nilai Islam, para seniman suku Sasak pada waktu itu tetap mempertahankan bentuk gendang besar yang menyerupai beduq yang biasa digunakan di masjid. 

Selain itu, jumlah personil yang digunakan pun dibatasi pada jumlah 13 atau 17 orang pemain. Bilangan ini menunjukkan bilangan rakaat dalam shalat.

Demikian juga tata cara memainkan alat ini merupakan perwujudan dari pelaksaan salat berjamaah dan tuntunan hidup bermasyarakat dengan nilai-nilai keislaman.

BAU NYALE EVENT SASAK


Core Even Bau Nyale yang diawali dengan parade Karnaval Festival Putri Mandalika yang berlangsung sore harinya bertempat di Selatan Hotel Novotel Loteng.  Yang dihadiri Menteri Perikanan dan Kelautan Bpk. Syarif Cicip Sutardjo didamping Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin SH, M.Si dan Bupati Lombok Tengah, HM. Suhaeli F.T (Kuta-Loteng, 19/2)

Ratusan ribu orang  memadati area pesisir pantai Seger, Desa Kuta, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Teggara Barat untuk mengikuti tradisi tahunan Festival Bau Nyale. Para peserta juga menggunakan pakaian asli suku sasak sebagai syarat pelaksanaan tradisi tahunan tersebut.

Bau Nyale merupakan tradisi menangkap nyale semacam cacing laut yang berwarna-warni, yang juga merupakan tradisi turun temurun warga suku asli Lombok "Sasak" untuk mengenang sejarah Putri Mandalika. Untuk penyelenggaraan disebut dengan “Core Even Bau Nyale".

FOTO

 
Support :