Latest Post

BUDAYA SASAK UPACARA PERKAWINAN KHUSUSNYA DAERAH PUJUT

Written By Unknown on Jumat, 07 Maret 2014 | 14.42

Adat perkawinan  pada masyarakat lombok khususnya di daerah pujut di kaitkan dengan upacara sorong serah aji krame.Seorang pemuda (terune) dapat memperoleh seorang istri berdasarkan adat dengan dua cara,pertama meminang kepada keluarga si (gadis),cara yang kedua dengan cara melarikan si gadis,cara yang ke tiga inilah yang sering di pakai pemuda (terune) pujut.setelah salah satu cara sudah di lakukan,maka keluarga pria melakukan tata cara perkawinan sesuai dengan adat sasak.

            Prosesi perkawinan adat sasak yang pertama adalah mesejati,yaitu dari pihak laki-laki mengutuds beberapa orang tokoh masyarakat setempat atau tokoh adat untuk melaporkan kepada desa atau kepala dusun (keliang)untuk mempermakluminya mengenai perkawinan tersebut tentang jati diri calon pengantin laki-laki dan dan selanjutnya melapor kepada pihak keluarga perempuan bahwa calon pengantin perempuan tidak kenapa-napa,tidak mati dan sebagainya akan tetapi dia di lahirkan menikah dengan calon pengantin pria tersebut.

            Kemudian proses yang kedua adalah (selabar) yaitu untuk mempermaklumkan kepada pihak keluarga calon pengantin perempuan yang di tindak lanjuti oleh pembicaraan adat istiadat meliputi yang di namakan aji kerame yang terdiri dari 33.66.100,dengan dasar penilaian uang,bahkan kadang-kadang acara seabar ini di rangkaikan dengan permintaan wali atau cara nagih untuk biaya roah atau begawe.kemudian prosesi yang ketiga menjemput wali,yaitu menjemput wali dari pihak perempuan bisa langsung pada saat selabar atau beberapa hari setelah selabar dan hal ini tergantung kesepakatan dua belah pihak,setelah mendapat wali dari pihak keluarga perempuan maka calon pengantin di akad nikahnya

PUSUK HUTAN MONYET



Pusuk (bhs.Sasak) berarti puncak adalah suatu wilayah dataran tinggi yang berada dipunggung bukit kaki Gunung Rinjani dengan panorama yang indah dengan hawa sejuk dalam balutan hutan tropis dengan berbagai vegetasi hujan/pohon khas Lombok. Wisatawan disuguhkan dengan pemandangan yang sangat menakjubkan, karena dari tempat ini kita dapat memandang 3 (tiga) Gili yakni Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno yang diiringi suara kicauan burung  khas Lombok yang merdu.
Pusuk terletak diperbatasan antara Lombok Barat dan Lombok Utara dan menjadi jalur yang digunakan para wisatawan untuk menuju lokasi-lokasi indah di Pulau Lombok bagian utara antara lain 3 (tiga) Gili tersebut diatas, Air Terjun Sendang Gila, Lokasi Lombok Kosaido Golf Course, dan beberapa hotel berbintang serta untuk menuju pintu barat jalur pendakian Gunung Rinjani di Senaru.

Suasana yang sejuk dan asri pusuk dimanfaatkan pula sebagai rest area / tempat persinggahan. Daya tarik utama yang dapat kita saksikan adalah kehidupan komunitas yang lincah dan jenaka spesies yang ada adalah Monyet Hutan Ekor Panjang ( Macaca Fascicularis ) yang berjajar ditepi jalan dengan setia menanti para wisatawan yang melintasi jalur tersebut memberikan umpan ( Kacang, Pisang atau lainnya),seringnya berinteraksi dengan manusia yang lewat nampak sekali monyet-monyet tersebut jinak dan terkadang bisa diberikan umpan dengan mengambil sendiri di tangan kita atau sang monyet duduk dipangkuan para pecinta binatang tersebut.

Gendang Beleq Budaya Sasak

Datusasaklombok-Keindahan Pulau Lombok tidak akan lengkap jika Anda hanya memandang alamnya tanpa melihat keragaman kesenian dan kebudayaan yang ada di dalamnya. 

Salah satu kesenian khas Lombok adalah Gendang Beleq (gendang besar). Kumpulan alat musik tradisional yang dimainkan dengan cara ditabuh berkelompok.

Disebut Gendang Beleq karena salah satu alat musik yang ditabuh berukuran beleq, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti besar.  Gendang beleq dibuat dari batang pohon besar yang bagian tengahnya dilubangi dan dilapisi dengan kulit kambing, sapi, atau pun kerbau. 

Kelengkapan lain dalam instrumen gendang beleq adalah sejumlah alat musik lain seperti oncer (gong), gong, reong (gong chime) dan petuk, dan sejumlah alat musik idiofonik lain (ceng-ceng, saron, calung, rincik) serta instrumen melodis, suling. Demikian kata Mursip.

Perlengkapan Gendang Beleq umumnya masih disakralkan atau jika di dalam bahasa Sasak masih dianggap maliq. Maliq yaitu tabu untuk dianggap remeh atau direndahkan, jika maliq ini dilanggar akan mendapatkan akibat fatal bagi yang melanggarnya baik berupa magis atau fisik. 

Akibat fatal ini disebut dengan tulah manuh (kena batunya), dan mendapat tulah karena melanggar sesuatu yang dianggap maliq.

Sementara itu, bentuk kesenian tradisional Gendang Beleq yang ditemukan dewasa ini adalah perkembangan bentuk dari pengaruh kesenian Bali yaitu Tawaq-Tawaq. 

Perubahan bentuk kesenian ini pertama kali terjadi sekitar tahun 1800 Masehi, ketika Anak Agung Gede Ngurang Karang Asem memerintah di Gumi Sasak (Pulau Lombok).

Sebelumnya, kesenian Gendang Beleq hanya terdiri atas sebuah Jidur (gendang besar yang berbentuk beduq), sebuah gong dan sebuah suling. 

Demikian besarnya pengaruh kebudayaan Bali pada waktu itu, sehingga peralatan kesenian ini berkembang sesuai dengan alat yang digunakan pada kesenian tawaq-tawaq. 

Tetapi, agar tidak meninggalkan nilai-nilai Islam, para seniman suku Sasak pada waktu itu tetap mempertahankan bentuk gendang besar yang menyerupai beduq yang biasa digunakan di masjid. 

Selain itu, jumlah personil yang digunakan pun dibatasi pada jumlah 13 atau 17 orang pemain. Bilangan ini menunjukkan bilangan rakaat dalam shalat.

Demikian juga tata cara memainkan alat ini merupakan perwujudan dari pelaksaan salat berjamaah dan tuntunan hidup bermasyarakat dengan nilai-nilai keislaman.

BAU NYALE EVENT SASAK


Core Even Bau Nyale yang diawali dengan parade Karnaval Festival Putri Mandalika yang berlangsung sore harinya bertempat di Selatan Hotel Novotel Loteng.  Yang dihadiri Menteri Perikanan dan Kelautan Bpk. Syarif Cicip Sutardjo didamping Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin SH, M.Si dan Bupati Lombok Tengah, HM. Suhaeli F.T (Kuta-Loteng, 19/2)

Ratusan ribu orang  memadati area pesisir pantai Seger, Desa Kuta, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Teggara Barat untuk mengikuti tradisi tahunan Festival Bau Nyale. Para peserta juga menggunakan pakaian asli suku sasak sebagai syarat pelaksanaan tradisi tahunan tersebut.

Bau Nyale merupakan tradisi menangkap nyale semacam cacing laut yang berwarna-warni, yang juga merupakan tradisi turun temurun warga suku asli Lombok "Sasak" untuk mengenang sejarah Putri Mandalika. Untuk penyelenggaraan disebut dengan “Core Even Bau Nyale".

Tradisi Penyambutan Bau Nyale, Pemkab Loteng Undang Artis Jakarta

Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengundang artis dari Jakarta guna memeriahkan tradisi penyambutan "Bau Nyale" (menangkap cacing laut), 19-20 Februari 2014.

Seperti tahun-tahun sebelumnya tradisi "Bau Nyale" itu digelar di dua lokasi yakni Pantai Kaliantan, Desa Serewe, Kabupaten Lombok Timur, dan di Pantai Seger Tanjung Aan, Desa Kuta, Kabupaten Lombok Tengah.

Di Kabupaten Lombok Timur, pemerintah setempat selalu memadukan dengan Festival Kaliantan yang menampilkan berbagai pagelaran kesenian daerah, yang dimulai beberapa hari sebelum puncak "Bau Nyale" yang biasanya digelar dini hari.

Selain parade budaya dan olahraga, juga kegiatan menyisik Bau Nyale, peresean, musik gambus, dan pagelaran seni tradisional lainnya.

Sedangkan di Kabupaten Lombok Tengah, tradisi tersebut dinamakan Festival "Core Event Bau Nyale" yang dipadukan dengan pemilihan putri Mandalika, serta pentas seni dan sendratari.

Diharapkan, tradisi "bau nyale" itu semakin meriah dan akan ada banyak wisatawan yang ikut menyaksikannya," ujarnya. Tradisi penyambutan "Bau Nyale" yang sudah turun-temurun sejak ratusan tahun silam itu didasarkan pada penghitungan penanggalan menurut tahun Sasak.

Setiap tahun "nyale" atau sejenis cacing laut (anelida polycaetae) yang muncul sekali dalam setahun di pantai selatan Pulau Lombok, ditangkap pada tanggal 19 dan 20 bulan kesepuluh dan kesebelas. Awal tahun Sasak ditandai dengan terbit bintang "Rowot", sementara menurut penghitungan suku Sasak bulan kesatu dimulai pada tanggal 25 Mei dan umur setiap bulan dihitung 30 hari. Bulan kesepuluh dan dan kesebelas itu berkisar antara Februari atau Maret pada penanggalan Masehi.

"Nyale" yang hendak ditangkap itu diyakini merupakan jelmaan dari Putri Mandalika yang pada ratusan tahun silam memilih menceburkan diri ke Laut Selatan Pulau Lombok ketika kesulitan memilih satu dari tiga pangeran yang sangat ingin mempersuntingnya.

Konon saat menceburkan diri itu Putri Mandalika berubah menjadi "nyale" yang kemudian diasumsikan oleh masyarakat di sekitar pantai selatan itu kalau Puteri Mandalika berubah menjadi "nyale" agar berguna bagi banyak orang, daripada menjadi obyek perebutan ketiga pangeran tersebut.

Sejarah Lombok Nusa Tenggara Barat

Written By Unknown on Selasa, 25 Februari 2014 | 04.55

pulau lombokDatusasaklombok-Menarik jika kita mengupas asal-usul  Pulau Lombok yang dikenal dengan berbagai budaya unik, menjadi lirikan berbagai wisatwan asing akhir-akhir ini. 

Lombok memiliki luasnya sepertiga dari luas Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat. Saat ini NTB memiliki jumlah penduduk sekitar 4 juta jiwa, yang mana dua pertiganya tinggal di Pulau Lombok. 

Hal ini terjadi karena Pulau Lombok lebih subur dari Pulau Sumbawa. Penduduk Pulau Lombok adalah orang Sasak. Mereka sebagian besar memeluk agama Islam.
 
Lombok dan Sasak adalah dua nama yang tidak bisa dipisahkan. Nama Lombok untuk sebutan pulaunya, nama Sasak untuk sebutan suku bangsanya. Lombok berasal dari bahasa Sasak; “lombo,” artinya “lurus”. Sasak sebenarnya berasal dari “sak-sak” yang artinya “perahu bercadik”.

Namun, banyak orang yang salah mengerti. Lombok diartikan “cabe” sehingga ada yang mengartikan pulau Lombok sebagai “pulau pedas”. Padahal cabe dalam bahasa Sasak adalah “sebia” (dibaca “sebie”)
 [ Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok ]
Cerita di bawah ini akan menjelaskan asal usul mengapa disebut Lombok dan Sasak. Nama Lombok dalam berbagai cerita lisan maupun tertulis dalam takepan lontar adalah salah satu nama dari Pulau Lombok. Nama lain yangsering disebut adalah pulau “Meneng” yang berarti “sepi”. Ada yang menyebut “Gumi Sasak”, ada yang menyebut “Gumi (bumi) Selaparang”, sesuai dengan nama salah satu kerajaan yang terkenal di Lombok pada zaman dulu, yaitu kerajaan Selaparang.
  [ Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok ]
Pulau Lombok sejak zaman kerajaan Majapahit sudah terkenal. Hal ini terbukti dengan disebutnya dalam buku Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca. Negarakertagama ditemukan juga di Lombok.
Legenda masyarakat Sasak menceritakan bahwa pada zaman dahulu kala, kerajaan Mataram Lama di Jawa Tengah dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Pramudawardhani yang kawin dengan Rakai Pikatan. Konon sangPermaisuri adalah seorang ahli pemerintahan, sedangkan sang suami ahli peperangan. Kekuasaannya ke barat sampai ke Pulau Sumatra, ke timur sampai ke Pulau Flores. Ketika itulah banyak rakyat Mataram pergi berlayar ke arah timur melalui Laut Jawa menggunakan perahu bercadik.
  [ Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok ]
Tujuan mereka berlayar tidak diketahui secara pasti. Apakah untuk memperluas kekuasaan atau menghindari kerja berat, karena pada saat itu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Kalasan sedang dibangun oleh sang raja.

Demikianlah mereka berlayar lurus ke timur dan mendarat di sebuah pelabuhan. Pelabuhan itu diberi nama Lomboq (lurus), untuk mengenang perjalanan panjang.

Mereka lurus ke timur tersebut. Selanjutnya, Lomboq kini tidak hanya menjadi nama pelabuhan tempat perahu itu mendarat, tetapi juga menjadi nama pulau Lomboq yang kemudian berubah menjadi Lombok. Mereka berlayar menggunakan perahu bercadik yang disebut “sak-sak”, dan jadilah mereka dinamakan orang Sak-Sak Yang berarti orang yang datang menggunakan perahu. Kemudian, mereka membaur dengan penduduk asli. Pada waktu itu, di Pulau Lombok telah ada kerajaan yang disebut kerajaan Kedarao (mungkin sekarang Sembalun dan Sambelia). 
  [ Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku Sasak Lombok ]
Mereka kemudian mendirikan kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok sekarang. Kerajaan Lombok menjadi besar, berkembang dalam lima abad, hingga dikenal di seluruh Nusantara, sebagai pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari Tuban, Gresik, Makasar, Banjarmasin, Ternate, Tidore, bahkan Malaka. Jika datang ke Lombok, orang Malaka membeli beras, tarum, dan kayu sepang.

Kerajaan Lombok kemudian dikalahkan oleh kerajaan Majapahit. Raja dan permaisurinya lari ke gunung dan mendirikan kerajaan baru Yang diberi nama Watuparang yang kemudian terkenal dengan nama kerajaan Selaparang.

Kapan nama Lomboq berubah menjadi Lombok, dan nama Sak-Sak berubah menjadi Sasak tidak diketahui secara pasti. Yang jelas sekarang pulaunya terkenal dengan nama Pulau Lombok dan suku bangsanya terkenal dengan nama suku Sasak. Nama Selaparang Sudah diabadikan menjadi nama sebuah jalan protokol dan nama lapangan terbang di Mataram, ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sumber : http://lombok-cyber4rt.blogspot.com/2013/02/sejarah-asal-usul-nama-lombok-cerita.html

Festival Keraton Melestarikan Budaya Nusantara

L.Satria Wangsa
Sebagai bentuk komitmen dalam melestarikan Budaya Nusantara, Mataram Lombok terpilih menjadi salah satu tuan rumah dalam Festival Keraton dan Masyarakat Adat se-Asia Tenggara II yang diselenggarakan pada 25--28 Oktober 2013 di Kota Mataram.

Dalam hal ini,   akan tampil para raja dan keluarga kerajaan se-Asia Tenggara.
Hal itu dikatakan pernah diktakan oleh Dirjen Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia I Gusti Agung Wisaka Puja saat bertemu dengan Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh di pendopo Wali Kota bersama segenap jajaran pemerintah kota setempat.

"Sejak dua tahun belakangan setiap kegiatan besar maupun kecil yang diselenggarakan oleh ASEAN selalu diarahkan untuk dibawa ke Pulau Lombok, terutama Kota Mataram," katanya.

Seperti kali ini, katanya, kegiatan yang rencananya menghadirkan para raja dan keluarga kerajaan se-Asia Tenggara itu penyelenggaraannya dipusatkan di Kota Mataram.

"Kami sudah minta pihak kedutaan untuk menghubungi keluarga kerajaan se-Asia Tenggara guna berpartisipasi dalam festival," katanya.

Sementara Wali Kota Mataram menilai kepercayaan yang diberikan menjadi tuan rumah merupakan sebuah media promosi dan publikasi yang ideal bagi Kota Mataram.

"Hal ini tentu akan membawa dampak positif baik untuk Kota Mataram maupun Pulau Lombok pada umumnya," katanya.

Dia mengatakan, pada prinsipnya Pemerintah Kota Mataram mendukung terselenggaranya berbagai kegiatan nasional dan internasional di ibu kota NTB ini.

Dengan harapan target yang harus diraih Kota Mataram tiga sukses, yakni sukses penyelenggaraan, sukses pencitraan, dan sukses ekonomi dalam setiap kegiatan besar, apalagi yang melibatkan banyak negara seperti ini.

Festival Keraton dan Masyarakat Adat se-Asia Tenggara II tahun 2013 bertema Komunitas ASEAN, penyelenggaraannya akan dipusatkan di Lapangan Umum Kota Mataram.

Selain digelar kegiatan parade budaya, akan dilaksanakan pula konferensi antar-Masyarakat Adat Nusantara yang nantinya diharapkan dapat melahirkan sebuah "Deklarasi Mataram". 

FOTO

 
Support :